Islam Menghargai Perbedaan Dan Menekankan Stabilitas Sosial

0

Islam telah membuktikan diri selama berabad abad sebagai agama pemersatu umat manusia dengan berbagai perbedaan ras, suku, bahasa dan lainnya. Islam mengedepankan perdamaian, keamanan dan stabilitas sosial untuk mewujudkan ketenteraman dan kesejahteraan umat.

Islam juga melampui persaudaraan sesama muslim, dengan menghargai dan menghormati agama lain dan bangsa-bangsa lain. Kedatangan Nabi Muhammad bersama kaum Muhajirin ke kota Madinah, berhasil menjaga bahkan meningkatkan stabilitas multi dimensi terutama stabilitas sosial dan keamanan.

“Bahkan antara kaum Aus dan Khazraj, dua kabilah kota Madinah yang sebelumnya berperang hebat, hingga tertanam dalam diri mereka semangat permusuhan, kebencian dan dendam kesumat, mampu bersatu. Peperangan dahsyat telah berkobar antara dua kabilah tersebut, namun setelah masuk Islam, seakan tidak tersisa sedikitpun bekasnya, terhapuskan oleh persaudaraan di atas Iman,” ujar DR. Muhamad Arifin Badri, Ketua Majelis Dakwah Pimpinan Pusat Perhimpunan Al Irsyad

Islam juga mengedepankan pentingnya mewujudkan stabilitas sosial dan keamanan. Ini di wujudkan melalui perjanjian dengan Kabilah Kabilah Yahudi penduduk kota Madinah, untuk bersama sama mempertahankan kota Madinah dari serangan musuh dari luar, dan menjaga stabilitas keamanan dan kebebasan beraktifitas  bagi seluruh penduduk Madinah.

“Kesepakatan untuk hidup berdampingan antara ummat Islam dengan kaum Yahudi penduduk Madinah ini menjadi contoh konkrit dalam mewujudkan stabilitas keamanan bagi satu bangsa. Fakta sejarah ini mengisyaratkan bahwa Islam menjunjung tinggi kedamaian dan dapat hidup berdampingan dengan penganut agama lain. Bahkan dapat bergandengan tangan dalam mewujudkan stabilitas sosial dan keamanan negeri dari ancaman musuh dari luar,” tegas Muhammad Arifin Badri yang juga Rektor Sekolah Tinggi Dakwah Islam Jember.

Lebih lanjut menurut DR. Muhammad Arifin Badri, stabilitas sosial dan keamanan adalah syarat utama bagi terciptakan kehidupan masyarakat yang makmur. Adapun urusan perbedaan idiologi, selama tidak saling mengganggu, maka ruang kerjasama untuk mewujudkan kemaslahatan bersama masih terbuka lebar. Yang demikian itu, karena untuk urusan agama maka sepenuhnya kembali kepada hidayah Allah.

Mendakwahkan Islam kepada orang lain dengan kekerasan bukanlah hal yang tepat, kalau ternyata Allah Ta’ala tidak membuka pintu hidayah untuk orang tersebut. Andaipun ia berhasil dipaksa masuk Islam, namun batinnya tetap membenci Islam, maka tetap saja sia-sia,  karena orang yang menerima Islam secara lahir saja tanpa diringi oleh batinnya maka disebut dengan orang munafik, dan orang munafik lebih buruk dibanding orang yang jelas jelas kafir.

Pada zaman Nabi Muhamad dan juga para khulafa’urrasyidin, di kota Madinah, didapatkan banyak orang-orang kafir yang hidup dengan bebas. Sebagaimana ummat Islam bebas menjalankan syari’at Islam, mereka juga memiliki kebebasan untuk menjalankan keyakinannya, tanpa ada tekanan sedikitpun. Islam mendeklarasikan prinsip kebebasan menjalankan syari’at agama masing-masing, bagi seluruh penduduk di negeri Islam.

Hidup berdampingan antara ummat Islam dengan penganut Yahudi di kota Madinah terus berlangsung dengan baik, hingga pada suatu saat satu persatu kabilah Yahudi menodai kesepakatan dan mengusik kehormatan ummat Islam, hingga akhirnya terjadi peperangan yang berujung pada terusirnya kaum Yahudi dari kota Madinah. Andai mereka tetap bersikap baik dan tidak mengusik kehormatan ummat Islam, niscaya mereka dapat terus hidup berdampingan dengan Ummat Islam di kota Madinah.

Menurut Arifin Badri, mendakwahkan Islam melalui akhlaq yang mulia dan tutur kata yang lembut nan santun jauh lebih efektif dibanding dengan kekuatan atau kekerasan. Sampaipun telah disakiti dan dikhianati, maka Islam tetap harus disuguhkan dengan lemah lembut, diantaranya dengan memaafkan orang yang telah menyakiti dan mengkhianati.

Inilah Islam dan demikianlah Islam sepatutnya diajarkan kepada masyarakat, jauh dari sikap anarkis atau tindakan emosional atau radikal. Sejarah dakwah Nabi telah membuktikan bahwa Islam yang murni sebagaimana yang beliau ajarkan terbukti sejuk dan efektif mewujudkan stabilitas keamanan suatu negeri.

Kondisi serupa juga terjadi dengan nenek moyang kita yang sebelumnya beragamakan nonislam, namun ketika Islam datang ke negeri ini, maka nenek moyang kita juga berbondong bondong masuk Islam tanpa ada paksaan apalagi  peperangan.

Bila saat ini berbagai stabilitas berbagai negeri Islam tercabik oleh ulah segelintir umat Islam, maka dapat dipastikan bahwa ulah mereka jauh dari semangat dakwah Islam yang benar.

Pertumpahan darah bukanlah tujuan, namun sekedar sarana untuk menjaga kehormatan agama Islam yang diusik atau terancam.  Kekerasan bukanlah sarana utama dalam penyebaran Islam, tetapi melalui  keluhuran akhlaq dan kebesaran jiwa para juru dakwahnya.*

 

DR. Muhammad Arifin Badri

Ketua Majelis Dakwah Pimpinan Pusat Perhimpunan Al Irsyad

 

- Advertisement -

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY