Wednesday October 1, 2014
Category: pendidikan
07
Jul

Hubaib, Sang Syahid


Written by Ibrahim
Hits: 257

(gemaislam) - Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus 10 mata-mata yang dipimpin Ashim bin Tsabit al-Anshari kakek Ashim bin al-Khaththab. Ketika mereka tiba di daerah Huddah antara Asafan dan Makkah mereka berhenti di sebuah kampung suku Hudhail yang biasa disebut sebagai Bani Luhayan.

Kemudian Bani Luhayan mengirim sekitar 100 orang ahli panah untuk mengejar para mata-mata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berhasil menemukan sisa makanan berupa biji kurma yang mereka makan di tempat istirahat itu. Mereka berkata, ‘Ini adalah biji kurma Madinah, kita harus mengikuti jejak mereka.’

Ashim merasa rombongannya diikuti Bani Luhayan, kemudian mereka berlindung di sebuah kebun. Bani Luhayan berkata, ‘Turun dan menyerahlah, kami akan membuat perjanjian dan tidak akan membunuh salah seorang di antara kalian.’ Ashim bin Tsabit berkata, ‘Aku tidak akan menyerahkan diri pada orang kafir.’ Lalu memanjatkan doa, ‘Ya Allah, beritakan kondisi kami ini kepada Nabi-Mu shallallahu ‘alaihi wa sallam.’

Rombongan Bani Luhayan melempari utusan Rasulullah dengan tombak, sehingga Ashim pun terbunuh. Utusan Rasulullah tinggal tiga orang, mereka setuju untuk membuat perjanjian. Mereka itu adalah Hubaib, Zaid bin Dasnah dan seorang lelaki yang kemudian ditombak pula setelah mengikatnya. Laki-laki yang ketiga itu berkata, ‘Ini adalah penghianatan pertama. Demi Allah, aku tidak akan berkompromi kepadamu karena aku telah memiliki teladan (sahabat-sahabatku yang terbunuh).’

Kemudian rombongan Bani Hudhail membawa pergi Hubaib dan Zaid bin Dasnah, mereka berdua dijual. Ini terjadi setelah peperangan Badar. Adalah Bani Harits bin Amr bin Nufail yang membeli Hubaib. Karena Hubaib adalah orang yang membunuh al-Harits bin Amir pada peperangan Badar. Kini Hubaib menjadi tawanan Bani al-Harits yang telah bersepakat untuk membunuhnya.

Pada suatu hari Hubaib meminjam pisau silet dari salah seorang anak perempuan al-Harits untuk mencukur kumisnya, perempuan itu meminjaminya. Tiba-tiba anak laki-laki perempuan itu mendekati Hubaib bahkan duduk dipangkuannya tanpa sepengetahuan ibunya. Sementara tangan kanan Hubaib memegang silet. Wanita itu berkata, ‘Aku sangat kaget.’ Hubaib pun mengetahui yang kualami. Hubaib berkata, ‘Apakah kamu khawatir aku akan membunuh anakmu?Aku tidak mungkin membunuhnya.’

Wanita itu berkata, ‘Demi Allah aku tidak pernah melihat tawanan sebaik Hubaib. Dan demi Allah pada suatu hari, aku melihat Hubaib makan setangkai anggur dari tangannya padahal kedua tangannya dibelenggu dengan besi, sementara di Makkah sedang tidak musim buah. Sungguh itu merupakan rizki yang dianugrahkan Allah kepada Hubaib.’

Ketika Bani al-Harits membawa keluar Hubaib dari tanah haram untuk membunuhnya, Hubaib berkata, ‘Berilah aku kesempatan untuk mengerjakan shalat dua rakaat.’ Mereka mengizinkan shalat dua rakaat. Hubaib berkata, ‘Demi Allah, sekiranya kalian tidak menuduhku berputus asa pasti aku menambah shalatku.’ Lalu Hubaib memanjatkan doa, ‘Ya Allah, susutkanlah jumlah bilangan mereka, musnahkanlah mereka, sehingga tidak ada seorang pun dari keturunannya yang hidup,’ lalu mengucapkan syair:

Mati bagiku bukan masalah, selama aku mati dalam keadaan Islam
Dengan cara apa saja Allahlah tempat kembaliku
Semua itu aku kurbankan demi Engkau Ya Allah
Jika Engkau berkenan,
berkahilah aku berada dalam tembolok burung karena lukaku (syahid)

Lalu Abu Sirwa’ah Uqbah bin Harits tampil untuk membunuh Hubaib. Hubaib adalah orang Islam pertama yang dibunuh dan sebelum dibunuh melakukan shalat.

Category: pendidikan
20
Feb
Hits: 385

Pada suatu hari Ummu Ja'far istri khalifah Harun Ar-Rasyid menyuruh wakilnya untuk membeli unta jantan di pasar Baghdad.

Sesampainya di pasar wakil tersebut membeli unta dari seseorang yang datang dari Khurasan seharga 30.000 diraham, akan tetapi unta tersebut tidak langsung dibayar bahkan terkesan mengulur waktu hingga orang Khurasan tersebut tidak dapat langsung kembali ke kampung halamannya.

Setelah beberapa waktu akhirnya si wakil membayar 1000 dirham kepada orang khurasan dan tidak membayar sisanya. Orang Khurasan ini merasa terdzolimi dan mengadu kepada hakim yang kala itu bernama Hafsh bin Ghiyats. Lalu sang hakim menyuruh orang suruhan istri khalifah untuk membayarkan sisanya.

Wakil : "Uang sisanya ada pada Tuanku Ummu Ja'far istri Khalifah Harun Ar-Rasyid".

Hakim : "Wahai dungu, kamu berjanji akan membayarnya tetapi sekarang malah mengatakan kalau uangnya ada pada tuanmu".

Maka orang tersebut dipenjarakan oleh Hafs. Kabar ini sampai ke telinga Ummu Ja'far yang membuatnya marah dan diadukan kepada Harun Ar-Rasyid :

"Qadhi mu ini dungu, beraninya dia memenjarakan wakil ku, turunkan dia dari jabatannya" kata Ummu Ja'far.

Kahlifah menuruti permintaan istrinya untuk membebaskan wakilnya serta melarang Hafs menjadi Qadhi.

Hafs menurut saja tatkala khalifah melarangnya menjadi Qadhi lalu dia pulang ke rumahnya. Namun tatkala ia mengetahui bahwa Harun Ar-Rasyid akan melarangnya menghadiri persidangan dia keluar lagi dari rumahnya dan meminta kepada orang Khurasan agar mendatangkan saksi dan menemuinya di persidangan. Lalu Hafs datang menjadi hakim dan menanyai para saksi hingga jelas lah duduk perkaranya bahwa wakil istri khalifah lah yang bersalah dan diputuskan agar orang Khurasan itu diberi seluruh uangnya.

Pada saat itu datang utusan dari Khalifah mengatakan : "Ada surat untukmu dari khalifah wahai qadhi"

Hakim : "Nanti saja, kita sedang dalam persidangan syari'ah. Tunggu lah sampai selesai"

Utusan : "Aku membawa surat dari Amirul mu'minin"

Hakim : "Tunggu dan dengarkan saja"

Hafs tetap melanjutkan persidangan hingga selesai, setelah itu baru lah di ambil surat Amirul mu'minin dan dibacanya, seperti dugaan bahwa surat tersebut berisi larangan baginya untuk memimpin persidangan. Setelah membaca surat tersebut hakim berkata :

"Sampaikan salamku kepada Amirul mu'minin dan katakan padanya bahwa suratnya telah sampai padaku dan aku telah membacanya serta melaksanakan perintahnya"

Utusan : "Aku tau apa yang kamu lakukan, kamu sengaja mengabaikan surat Amirul mu'minin, aku akan laporkan perbuatanmu"

Hakim : "Katakan saja yang kamu suka"

Tatkala Amirul mu'minin mendengar apa yang terjadi ia malah tertawa dan memberikan hadiah sebesar 30 ribu dirham.

Ketika menerimanya Hafs berkata : "Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada orang yang menegakkan kebenaran baju kewibawaan".

Category: pendidikan
18
Feb
Hits: 305

Namanya adalah Salamah bin Dinar, seorang Tabi'in yang tinggal di kota madinah. Dia bertemu dengan pembesar para sahabat dan menimba ilmu serta berguru kepada mereka.

Dikisahkan pada suatu hari Khalifah Bani Umayyah Sulaiman bin Abdul Malik menuju kota madinah dalam perjalanannya untuk menunaikan ibadah haji, sesampainya di madinah beliau singgah di sana beberapa hari ditemani oleh beberapa sahabatnya semisal Abu Syihab Az-Zuhri dan Rajaa' bin Haiwah.

Tatkala tinggal di kota Madinah hatinya rindu kepada orang orang yang pernah tinggal disana yaitu para sahabat, lalu dia bertanya orang di sekitarnya : "Tidak adakah di kota ini seorang yang pernah bertemu dengan sahabat Rasulullah?", "Ada wahai khalifah, seseorang yang dipanggil Abu Hazim" kata mereka. Lalu dipanggil lah beliau untuk menghadap Khalifah.

Tatkala sampai dihadapan Khalifah beliau berdiri menunggu untuk dipersilahkan duduk, setelah lama menunggu tak juga dipersilahkan, padahal dia adalah orang tua, akhirnya ia letakkan tongkatnya dan duduk. Melihat perbuatan tersebut Khalifah merasa heran lalu bertanya :

Sulaiman : "Mengapa engkau demikian angkuh wahai Abu Hazim? Padahal engkau bertemu dengan para sahabat yang mulia dan menimba ilmu dari mereka".

Abu Hazim : "Angkuh yang bagaimana wahai Amirul Mu'minin?".

Sulaiman : "Para pemuka penduduk Madinah dan para ulama datang menyambutku sedangkan engkau tidak ada".

Abu Hazim : "Yang dikatakan angkuh adalah jika aku mengenal anda, sedangkan saya dan anda belum pernah berkenalan".

Sulaiman : "Engkau benar wahai Syaikh".

Kemudian Sulaiman kembali menanyakan beberapa masalah, diantara yang dia tanyakan adalah :

Sulaiman : "Wahai Abu Hazim, mengapa kita membenci kematian?".

Abu Hazim : "Karena kalian menelantarkan akhirat dan memakmurkan kehidupan dunia, sehingga kalian enggan untuk berpindah dari negri yang makmur menuju negri terlantar".

Sulaiman : "Engkau benar wahai Abu Hazim, lalu siapakah manusia yang paling bodoh?".

Abu Hazim : "Orang yang terpengaruh oleh hawa nafsu kawannya, padahal kawannya tersebut orang yang zalim. Maka pada hakikatnya dia menjual akhiratnya untuk kepentingan dunia orang lain".

Sulaiman : "Lalu Siapakah orang yang paling berakal?".

Abu Hazim: "Orang yang paling berakal adalah orang menuntut ilmu dan hikmah lalu mengajarkannya kepada manusia".

Maha suci Allah, perhatikan bagaimana cerdasnya jawaban Abu Hazim, seakan-akan dia menimbanya langsung dari sumur kenabian.

Sulaiman : Wahai Abu Hazim, maukah engkau mendampingi kami agar kami bisa mendapatkan sesuatu darimu dan Anda mendapatkan sesuatu dari kami?”

Abu Hazim: Tidak, wahai Amirul Mukminin.

Sulaiman : "Mengapa?"

Abu Hazim : “Saya khawatir kelak akan condong kepada Anda sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menghukum saya dengan kesulitan di dunia dan siksa di akhirat.”

Sulaiman : “Utarakanlah kebutuhan Anda kepada kami wahai Abu Hazim.”

Abu Hazim tidak menjawab sehingga sang Khalifah mengulangi pertanyaannya: “Wahai Abu Hazim, utarakan hajat-hajatmu, kami akan memenuhi sepenuhnya.”

Abu Hazim: “Hajat saya ialah selamat dari api neraka dan masuk surga.”

Sulaiman: “Itu bukan wewenang kami, wahai Abu Hazim.”

Abu Hazim: “Saya tidak memiliki keperluan selain itu wahai amirul Mukminin.”

Sulaiman : “Wahai Abu Hazim, berdoalah untukku.”

Abu Hazim: “Ya Allah, bila hamba-Mu Sulaiman ini adalah orang yang Kau cintai, maka mudahkanlah baginya jalan kebaikan di dunia dan di akhriat, Dan jika dia termasuk musuh-Mu, maka berilah dia hidayah kepada apa yang Engkau sukai dan Engkau ridhai, Amin.”

Salah satu hadirin berkata, “Alangkah buruknya perkataanmu tentang Amirul Mukminin. Engkau sebutkan khalifah muslimin barangkali termasuk musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala, kamu telah menyakiti perasaannya.”

Abu Hazim: “Justru perkataanmu itulah yang buruk. Ketahuilah bahwa Allah telah mengambil janji dari para ulama agar berkata jujur:

“Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.” (QS. Ali Imran: 187)

Beliau menoleh kepada khalifah seraya berkata, “Wahai Amirul Mukminin umat-umat terdahulu tinggal dalam kebaikan dan kebahagiaan selama para pemimpinnya selalu mendatangi ulama untuk mencari kebenaran pada diri mereka. Kemudian muncullah kaum dari golongan rendah yang mempelajari berbagai ilmu, mendatangi para amir untuk mendapatkan suatu kesenangan dunia. Selanjutnya para amir terebut tak lagi menghiraukan perkataan ulama, maka mereka pun menjadi lemah dan hina di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seandainya segolongan ulama itu tidak tamak terhadap apa yang ada di sisi para amir, tentulah amir-amir tersebut akan mendatangi mereka untuk mencari ilmu. Tetapi karena para ulama menginginkan apa yang ada di sisi para amir, maka para amir tak mau lagi menghiraukan ucapannya.”

Sulaiaman: “Anda benar. Tambahkanlah nasihat untukku, wahai Abu Hazim, aku benar-benar tidak mendapati hikmah yang lebih dekat dengan lidahnya daripada Anda.”

Abu Hazim: “Bila Anda termasuk orang yang suka menerima nasihat, maka apa yang saya utarakan tadi cukuplah sebagai bekal. Tetapi bila tidak dari golongan itu, maka tidak perlukah aku memanah dengan busur yang tak ada talinya.

Sulaiaman: “Wahai Abu Hazim, aku berharap Anda mau berwasiat kepadaku.”

Abu Hazim: “Baiklah, akan saya katakan dengan ringkas. Agungkanlah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan jagalah jangan samapi Dia melihat Anda dalam keadaan yang tidak disukai-Nya dan tetaplah Anda berada di tempat yang diperintahkan-Nya.”

Setelah itu, Abu Hazim mengucapkan salam dan mohon diri. Khalifah berkata, “Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan wahai seorang alim yang suka menasihati.”

Setibanya di rumah, Abu Hazim mendapati sekantung dinar dari Amirul Mukminin yang disertai surat berbunyi: “Pergunakanlah harta ini, dan bagi Anda masih ada persediaan yang semisalnya di sisiku.” Namun beliau mengembalikan harta tersebut disertai surat balasan: “Wahai Amirul Mukminin, saya berlindung kepada Allah apabila pertanyaan-pertanyaan Anda kepada saya hanya Anda anggap iseng dan jawaban saya pun menjadi bathil. Demi Allah saya tidak rela itu terjadi pada diri Anda, lalu bagaimana saya bisa merelakannya untuk diri saya sendiri? Wahai Amirul Mukminin, bila dinar-dinar ini adalah imbalan atas kata-kata yang saya sampaikan kepada Anda, maka memakan bangkai dan daging babi dalam keadaan terpaksa adalah lebih halal daripadanya. Namun apabila ia memang hak saya dari baitul mal muslimin, apakah Anda memberikannya sama besar dengan bagian muslimin yang lainnya?”

Begitulah yang dilakukan oleh para ulama dan orang-orang shalih, mereka menasehati hanya mengharap pahala dari Allah tanpa mengharap imbalan dari manusia ataupun takut celaan dan disempitkan rizkinya, mereka mengatakan kebenaran sebagai kebenaran dan kebatilan sebagai kebatilan. Oleh karena itu dahulu para pemimpin suka meminta nasehat dari para ulama karena nasehat mereka benar-benar berasal dari hati.

Category: pendidikan
19
Feb
Hits: 487

Pada suatu hari ada seorang tabi'in yang merusak alat musik milik khalifah Marwan bin Hakam hingga dia dibawa kehadapan marwan untuk diadili, dan Marwan memutuskan agar orang tersebut dilempar ke dalam kandang singa.

Tatkala dimasukkan kedalam kandang singa, tabi'in itu segera menunaikan shalat. Maka datanglah seekor singa sambil menggoyangkan ekornya, hingga berkumpullah semua orang yang ada di tempat itu was-was menanti apa yang akan terjadi pada tabi'in ini.

Tetapi singa tersebut hanya duduk di dekatnya sambil menjilati orang tersebut dengan lidahnya sementara orang tersebut tetap shalat seakan-akan tidak peduli apa yang terjadi, kejadian ini berlangsung sepanjang malam.

Di pagi harinya Marwan bertanya : "Apa yang terjadi dengan orang yang kemarin?"

Pengawal : "Orang itu sudah dimasukkan kedalam kandang singa."

Marwan : "Lihatlah, apa orang itu sudah dimakan singa?"

Maka tatkala melihat keadaan tabi'in tersebut mereka terheran-heran karena singa itu malah jinak dihadapannya. Akhirnya dibawalah orang tersebut ke hadapan Khalifah.

Marwan : "Apakah kamu tidak takut singa?"

Tabi'in : "Iya, aku tidak takut kepada singa, karena fikiranku sibuk memimikirkan sesuatu sepanjang malam."

Marwan : "Apa yang kamu pikirkan?"

Tabi'in : "Singa yang ganas ini menjilati bajuku, hingga fikiranku sibuk memikirkan mengenai hukum air liurnya, apakah termasuk benda najis atau tidak, aku berfikir keras hingga tak sempat merasa takut kepada singa tersebut."

Mendengar jawaban ini, Marwan merasa kagum terhadapnya. Pada akhirnya  dia di bebaskan oleh marwan.

Ini lah bukti bahwa Allah subhanahu wa ta'ala selalu bersama hambanya yang bertakwa, sebagaimana yang terjadi pada nabi Ibrahim yang dilempar ke dalam kobaran api yang panas tiba-tiba menjadi dingin. Begitulah mukjizat Allah dan karomahnya yang diberikan kepada para nabi dan ulama serta orang orang shaleh yang hanya bergantung kepada Allah.

Category: pendidikan
17
Feb
Hits: 313

Kepribadiannya sangat mulia, cerdas, dan banyak karyanya. Dikisahkan bahwa beliau tidak tidur kecuali setelah menulis 20 lembar sepanjang hidupnya.

Pada suatu hari beliau diutus oleh salah satu penguasa kaum muslimin untuk menemui kaisar Romawi untuk mengantar sebuah surat, tatkala sampai di tempat kaisar dia mendapati ternyata pintu masuknya dibuat sangat pendek, sehingga barang siapa yang masuk harus membungkuk seperti sedang ruku'. Pintu ini sengaja dibuat untuk merendahkan utusan kaum muslimin.

Mengetahui hal ini Abu Bakr tidak kehilangan akal, beliau masuk kedalam dengan membalikkan badan sehingga bagian belakang tubuhya menghadap ke kaisar, begitu masuk lantas ia memberi salam kepada kaisar.

Akhirnya sang Kaisar mengetahui kecerdasan orang ini, tetapi kaisar belum menyerah untuk mengujinya agar dapat menghina umat islam, maka disiapkanlah sebuah alat musik yang disebut "Al-Arghal" dan di letakkan di dekatnya, siapapun yang mendengarnya pasti akan menari sadar maupun tidak.

Tetap saja Abu Bakr tidak kehilangan akal, agar dia tidak terbawa suasana dan ikut-ikutan menari maka diambilah pedangnya dan dtebaskan ke kakinya hingga terluka, tujuannya adalah untuk mengalihkan perhatiaannya dari alat musik yang dapat menjadikannya lalai.

Melihat bahwa tipuannya tidak membuat Abu Bakr bergeming heranlah kaisar Romawi, apa gerangan yang terjadi bagaimana mungkin ada seorang yang tidak terpengaruh alat musik itu. Begitu mengetahui bahwa Abu Bakr melukai dirinya sendiri terkejutlah Kaisar dan kagum atas kegigihan dan kuatnya iman Abu Bakr.

Itulah sekelumit kisah tentang kecerdasan dan ketabahan Abu Bakr yang menyelamatkannya dari propaganda Kaisar Romawi.

Berita Nasional

article thumbnail

JAKARTA (gemaislam) – Pemerintah telah menetapkan Idul Adha jatuh pada Ahad 5 Oktober 2014. Artinya, sebentar lagi kita akan merayakan hari raya yang telah disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya.  [ ... ]

More inindonesia news